DARI CIBUBUR, BELAJAR MEMIMPIN DENGAN HATI: REFLEKSI KEPEMIMPINAN DI JAMBORE NASIONAL XII
Oleh:
Jemrif Nome, S.Pd., M.Pd., Gr.
Ketua MKKS SMP Kabupaten Timor Tengah Selatan 2026 - 2030
Menjadi
seorang pemimpin yang bijaksana dan bertanggung jawab merupakan salah satu
cita-cita utama yang senantiasa ditanamkan dalam proses pembinaan generasi muda
melalui Gerakan Pramuka. Nilai-nilai kepemimpinan tidak hanya diajarkan melalui
teori, tetapi dibentuk melalui pengalaman, keteladanan, kedisiplinan, kerja
sama, serta pengabdian kepada sesama.
Ketika
hadir sebagai salah satu peninjau dalam kegiatan Jambore Nasional XII Tahun 2026 di Bumi Perkemahan Cibubur, saya
mendapatkan kesempatan untuk melihat secara langsung semangat, kemandirian,
kreativitas, dan kebersamaan generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Di tengah suasana perkemahan yang penuh dengan aktivitas dan interaksi antar peserta,
saya kembali berefleksi tentang makna kepemimpinan yang sesungguhnya.
Kepemimpinan
sejati ternyata tidak diukur dari tingginya jabatan, besarnya kekuasaan,
ataupun banyaknya orang yang berada di bawah kepemimpinan seseorang.
Kepemimpinan sejati justru terlihat dari besarnya keikhlasan dalam melayani, ketulusan dalam mengabdi, keberanian
dalam mengambil keputusan, serta kesediaan menempatkan kepentingan bersama di
atas kepentingan pribadi.
Gerakan
Pramuka memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda agar
menjadi pribadi yang berani, mandiri, bertanggung jawab, cakap dalam
berorganisasi, serta mampu bekerja sama dengan orang lain. Melalui berbagai
kegiatan kepramukaan, peserta dididik untuk belajar memimpin sekaligus belajar
menjadi bagian dari sebuah tim.
Pengamalan
Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka menjadi landasan penting dalam
pembentukan karakter tersebut. Setiap anggota Pramuka didorong untuk memiliki
kepekaan sosial, menghargai sesama, menjaga persatuan, bertanggung jawab
terhadap tugas, serta berani tampil sebagai bagian dari solusi dan agen
perubahan di tengah masyarakat.
Jambore
Nasional bukan sekadar kegiatan perkemahan. Di dalamnya terdapat proses
pendidikan karakter yang sangat kuat. Anak-anak muda belajar tentang disiplin,
kepemimpinan, toleransi, gotong royong, kemandirian, kepedulian lingkungan, dan
semangat persaudaraan. Mereka datang dari berbagai daerah dengan latar belakang
yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh semangat kebangsaan dan nilai-nilai
kepramukaan.
Dari
Cibubur, saya semakin percaya bahwa membangun bangsa tidak cukup hanya dengan
mencetak generasi yang cerdas secara akademik. Kita juga membutuhkan generasi
yang berkarakter, berintegritas,
memiliki kepedulian sosial, mampu bekerja sama, serta memiliki keberanian untuk
mengambil tanggung jawab.
Karena
itu, jiwa kepemimpinan harus terus dipupuk sejak dini. Sekolah, keluarga,
organisasi kepemudaan, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama untuk
menciptakan ruang bagi anak-anak dan generasi muda agar belajar memimpin,
belajar melayani, dan belajar bertanggung jawab.
Mari
kita terus menanamkan nilai-nilai kepemimpinan yang berkarakter kepada generasi
muda agar mereka mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang semakin gemilang,
adil, maju, dan sejahtera menuju generasi emas 2045.
Pada
akhirnya, saya kembali diingatkan oleh Dasa Darma Pramuka yang
kesepuluh:
“SUCI DALAM PIKIRAN,
PERKATAAN DAN PERBUATAN.”
Kalimat
sederhana ini sesungguhnya mengandung pesan kepemimpinan yang sangat dalam.
Pemimpin yang baik harus memiliki pikiran yang jernih, perkataan yang dapat
dipercaya, dan perbuatan yang menjadi teladan.
Orang
yang berkelas tidak perlu merendahkan orang lain agar dirinya terlihat tinggi.
Sebaliknya, orang yang memiliki kualitas diri akan memilih untuk menghargai,
menguatkan, dan memberikan keteladanan yang baik kepada sesama.


-100x100.jpg)

