Kontingen Jamnas XII Kwarcab TTS Belajar Navigasi Langsung di Anjungan KM Tidar
Dari Pelayaran Panjang Menuju Jakarta, Pramuka TTS Mendapat Pengalaman
Edukatif dan Inspiratif tentang Dunia Kemaritiman
KAPAL KM TIDAR, 11 Agustus 2026 —
Perjalanan Kontingen Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Timor Tengah
Selatan (TTS) menuju Jambore Nasional (Jamnas) XII menjadi pengalaman yang jauh
lebih bermakna dari sekadar perjalanan menuju Jakarta.
Di tengah pelayaran menggunakan KM Tidar,
para anggota Pramuka Penggalang asal Timor Tengah Selatan memperoleh kesempatan
istimewa untuk mengunjungi anjungan atau ruang kemudi kapal.
Di tempat yang menjadi pusat kendali pelayaran tersebut, peserta mendapatkan
pembelajaran langsung mengenai navigasi, keselamatan pelayaran, pengoperasian
kapal, serta kehidupan para awak kapal di laut.
Kesempatan tersebut diberikan oleh Nakhoda KM
Tidar, Kapten Hendra A.S.S., beserta jajaran perwira kapal. Para
peserta tidak hanya melihat dari dekat berbagai perangkat navigasi modern,
tetapi juga berkesempatan berdialog dan bertanya langsung kepada nakhoda dan
perwira mengenai bagaimana sebuah kapal besar diarahkan, dikendalikan, dan
dijaga keselamatannya selama berlayar.
Suasana anjungan pun berubah menjadi ruang belajar yang
penuh rasa ingin tahu. Para peserta tampak antusias ketika mendapatkan
penjelasan mengenai pembacaan arah, posisi kapal, kondisi cuaca, jalur
pelayaran, hingga berbagai prosedur yang harus diperhatikan dalam menjaga
keselamatan pelayaran.
Anjungan atau navigation bridge merupakan pusat
komando dan navigasi kapal. Dari ruangan inilah nakhoda dan perwira jaga
melakukan pemantauan serta pengendalian terhadap perjalanan kapal.
Dalam kunjungan tersebut, peserta diperkenalkan pada
sejumlah perangkat penting yang digunakan dalam pelayaran, antara lain kompas
navigasi, radar, ECDIS, GPS, engine telegraph, echosounder, VHF radio, dan AIS.
Melalui penjelasan para perwira kapal, peserta memahami
bahwa pelayaran tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga ketelitian,
disiplin, pengetahuan, komunikasi, serta kemampuan mengambil keputusan.
Radar diperkenalkan sebagai perangkat
yang membantu mendeteksi objek di sekitar kapal, seperti kapal lain, daratan,
maupun objek tertentu, terutama dalam kondisi jarak pandang terbatas.
Sementara itu, ECDIS dan GPS membantu
perwira mengetahui posisi kapal, membaca peta elektronik, serta merencanakan
dan memantau rute pelayaran.
Peserta juga memperoleh pengetahuan tentang kompas
navigasi sebagai salah satu instrumen penting untuk menentukan arah
dan haluan kapal. Selain itu, echosounder digunakan untuk
mengetahui kedalaman perairan, sedangkan VHF radio dan AIS
berperan penting dalam komunikasi serta pertukaran informasi antarkapal dan
dengan stasiun pantai.
Tidak kalah menarik, peserta juga diperkenalkan dengan engine
telegraph, yaitu perangkat yang digunakan untuk menyampaikan perintah
terkait gerakan atau kecepatan kapal antara anjungan dan ruang mesin.
Bagi para anggota Pramuka, pengalaman tersebut menjadi
pembelajaran nyata yang sulit diperoleh hanya melalui buku atau pembelajaran di
ruang kelas.
Kontingen Kwarcab TTS yang mengikuti perjalanan ini
terdiri atas 32 peserta, sementara pembina, pendamping, dan
peninjau berjumlah 21 orang.
Kesempatan mengunjungi anjungan KM Tidar menjadi salah
satu pengalaman paling berkesan selama perjalanan. Para peserta dapat melihat
secara langsung bagaimana teori tentang arah, peta, komunikasi, kerja sama,
disiplin, dan keselamatan diterapkan dalam kehidupan nyata.
Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa
kegiatan Pramuka memiliki hubungan yang erat dengan berbagai keterampilan
kehidupan, termasuk kemampuan bernavigasi, bekerja dalam tim, berkomunikasi,
mengambil keputusan, serta memiliki kepedulian terhadap keselamatan orang lain.
Pemimpin Kontingen Kwarcab TTS, Ka Ida Ome dari
SMTK Negeri SoE, mengungkapkan rasa haru dan bangganya atas kesempatan
yang diberikan oleh Kapten KM Tidar dan seluruh jajaran awak kapal.
Menurutnya, kunjungan ke ruang kemudi merupakan
pengalaman yang sangat berharga, bukan hanya bagi peserta, tetapi juga bagi
para pembina dan pendamping.
“Selama pengalaman saya melakukan perjalanan dan
berlayar menggunakan kapal laut, baru kali ini saya melihat langsung dan
diizinkan masuk ke dalam ruang kemudi kapal. Saya sangat terharu dan bangga
karena bisa membawa adik-adik rombongan Pramuka Kwarcab TTS untuk belajar
secara langsung dari para ahlinya,” tutur Ka Ida Ome.
Ia menilai pengalaman tersebut memberikan pembelajaran
yang jauh lebih nyata karena peserta dapat melihat, mendengar, bertanya, dan
memahami langsung bagaimana sebuah kapal dikendalikan.
“Ini bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi edutrip
luar biasa yang membakar semangat anak-anak dari Timor Tengah Selatan untuk
berani bermimpi besar dan mengenal lebih dekat dunia kebaharian Indonesia,”
tambahnya.
Menurutnya, pengalaman seperti ini penting untuk
menumbuhkan rasa percaya diri dan wawasan peserta bahwa Indonesia merupakan
negara kepulauan yang memiliki kekayaan serta potensi besar di bidang
kemaritiman.
Kapten KM Tidar, Kapten Hendra A.S.S.,
menyampaikan bahwa kesempatan memperkenalkan dunia maritim kepada generasi muda
merupakan bagian penting dalam menumbuhkan wawasan kebaharian.
Generasi muda, khususnya anggota Pramuka, perlu mengenal
lebih dekat bagaimana wilayah laut Indonesia menjadi bagian penting dari
kehidupan masyarakat dan pembangunan bangsa.
Para peserta pun memanfaatkan kesempatan tersebut dengan
mengajukan berbagai pertanyaan. Mulai dari bagaimana menentukan arah kapal,
membaca peta laut, mengetahui posisi kapal, berkomunikasi dengan kapal lain,
menghadapi perubahan cuaca, hingga bagaimana menjaga keselamatan kapal ketika
menghadapi gelombang.
Interaksi tersebut menciptakan suasana belajar yang
hidup dan menyenangkan.
Pembelajaran di anjungan KM Tidar menjadi contoh nyata
bahwa pendidikan dapat berlangsung di mana saja. Laut, kapal, pelabuhan, dan
perjalanan panjang pun dapat menjadi ruang belajar yang memberikan pengalaman
langsung kepada peserta didik.
Perjalanan Kontingen Kwarcab TTS menuju Jakarta juga
menjadi pengalaman tersendiri. Sekretaris Caretaker Kwarcab TTS, Ambrosius
Siku, mengungkapkan bahwa perjalanan tersebut memberikan kesempatan
kepada kontingen untuk menikmati perjalanan laut sekaligus mengenal berbagai
wilayah dan pelabuhan di Indonesia.
Rute perjalanan yang dilalui antara lain Pelabuhan
Tenau, Lewoleba, Larantuka, Maumere, Bau-Bau, Makassar, Tanjung Perak Surabaya,
hingga Tanjung Priok Jakarta.
Menurut Ambrosius, perjalanan panjang tersebut
memberikan banyak pengalaman baru kepada para peserta. Mereka dapat menyaksikan
secara langsung aktivitas di berbagai pelabuhan, mengenal karakter wilayah yang
berbeda, serta merasakan bagaimana perjalanan laut menghubungkan satu daerah
dengan daerah lainnya.
Yang tidak kalah penting, perjalanan tersebut menjadi
kesempatan bagi Kontingen Kwarcab TTS untuk membangun persaudaraan dengan
kontingen dari berbagai Kwartir Cabang di bawah Kwarda Nusa Tenggara
Timur.
“Kontingen sangat menikmati perjalanan ini. Selain
dapat melalui berbagai pelabuhan, anak-anak juga mendapatkan pengalaman baru
dan kesempatan untuk berbagi cerita serta membangun persaudaraan dengan
kontingen dari 17 Kwarcab yang berasal dari Kwarda NTT,” ungkap Ambrosius.
Perjalanan tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang
berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Di sepanjang perjalanan, para
peserta belajar tentang keberagaman, persaudaraan, kedisiplinan, kebersamaan,
dan kehidupan masyarakat Indonesia yang terhubung oleh laut.
Bagi Kontingen Kwarcab TTS, perjalanan menuju Jamnas XII
menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakter.
Pengalaman berada di atas kapal, mengunjungi anjungan,
berinteraksi dengan nakhoda dan awak kapal, mengenal berbagai alat navigasi,
serta bertemu dengan sesama Pramuka dari berbagai daerah menjadi pengalaman
yang akan tersimpan dalam ingatan para peserta.
Dari ruang kemudi KM Tidar, para peserta belajar bahwa
untuk menentukan arah perjalanan dibutuhkan pengetahuan, ketelitian,
keberanian, dan kerja sama.
Nilai-nilai tersebut juga menjadi bekal penting bagi
mereka dalam perjalanan kehidupan.
Dari Timor Tengah Selatan, mereka berlayar membawa harapan. Dari
laut, mereka belajar menentukan arah. Dan menuju Jambore Nasional XII, mereka
membawa pengalaman, persaudaraan, serta semangat untuk menjadi generasi muda
Indonesia yang tangguh, berkarakter, dan berwawasan luas.

-100x100.jpg)


-100x100.jpg)